Senin, 22 Desember 2008

Hikayat Nabi Muhammad, S. Aw


Berikut juru tik sajikan sebuah artikel kehidupan periode awal Nabi Suci Islam Muhammad saw. di Mekkah, yg merupakan bagian dari bab III buku Islam - Its Meaning for Modern Man karya Sir Muhammad Zafrullah Khan yg diterjemahkan kedalam bahasa indonesia oleh Djohan Effendi, diambil Sinar Islam bulan Aman 1356 HS/Maret tahun 1977) No.3 - Th XLV.


Muhammad berusia empat puluh tahun — pada tahun 610 Masehi — ketika Wahyu Ilahi turun kepadanya di kala menyepi di Gua Hira, tempat yang biasa ia datangi untuk berdo’a dan tafakur. Dia melihat seorang datang dengan ramah dan memintanya membaca. Muhammad menjawab bahwa dia tidak tahu bagaimana caranya membaca. Orang yang datang itu mendesak : “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu Mahamulia. Yang mengajarkan manusia dengan pena. Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya” (96 : 2-6).
Muhammad mengulangi kata-kata tersebut seperti diperintahkan. Malaikat itu kemudian menghilang. Muhammad yang tidak tahan oleh pengalaman itu segera pulang. Dia menceritakan kepada kepada Khadijah apa yang telah terjadi. Dia memperlihatkan kecemasan yang menakutkan, apakah orang yang lemah seperti dirinya akan mampu membuktikan sepadan dengan tanggungjawab berat yang diisyaratkan oleh peristiwa itu bahwa Tuhan telah meletakan tanggungjawab tersebut di atas pundaknya.

Mengembalikan nilai-nilai
“Sesungguhnya Tuhan tidak pernah membebanimu penderitaan” adalah jawaban Khadijah yang melegakan. “Engkau orang yang ramah dan baik hati pada keluarga. Engkau penolong orang-orang miskin, terlantar dan mereka yang menanggung berat beban hidup yang berat. Engkau orang yang berusaha mengembalikan nilai-nilai akhlak luhur yang telah menghilang dari kaummu. Engkau yang memuliakan tamu dan memberikan bantuan pada orang yang menderita”.
Penilaian Khadijah pada waktu itu menyorotkan cahaya yang terang tentang budi perangai Nabi seperti diteliti oleh sahabat yang paling rapat dan dekat. Kesaksian yang luhur tentang seorang suami atau istri mengenai akhlak dan budi perangai kawan hidupnya merupakan nilai yang amat tinggi, sebab tak seorangpun yang beroleh kesempatan untuk membuat perkiraan yang teliti, yang didasarkan atas penelitian dari dekat dan pengalaman pribadi.
Khadijah mengajak Muhammad pergi bersamanya kepada saudara sepupunya yang sudah tua, Waraqah, seorang pertapa Kristen, dan menceritakan pengalaman itu kepadanya. Ketika Waraqah mendengar peristiwa itu, dia berkata: “Malaikat yang pernah turun kepada Musa telah turun kepada engkau. Saya berharap masih hidup agar bisa menolongmu ketika kaummu mengusirmu”.
“Apakah kaumku akan mengusirku” jerit Muhammad terperanjat.
“Tidak pernah terjadi bahwa sesuatu datang kepada seseorang seperti yang kini datang kepadamu, kecuali kaumnya menentangnya”, jawab Waraqah.
Isyarat Waraqah kepada Musa boleh jadi didasarkan pada ramalan yang termuat dalam kata-kata: “Bahwa Aku akan menjadikan bagi mereka itu seorang nabi dari antara segala saudaranya, yang seperti engkau, dan Aku akan memberi segala firmanku dalam mulutnya dan iapun akan mengatakan kepadanya segala yang kusuruh akan dia. Bahwa sesungguhnya barangsiapa yang tiada mau dengar akan segala firmanku yang akan dikatakan olehnya dengan namaku, niscaya Aku menuntutnya kelak kepada orang itu” (Ulangan 18 : 18-19).
Pengalaman pertama
Adalah menarik hati bahwa wahyu pertama yang datang kepada Nabi memerintahkan dia: “Bacalah dengan nama Tuhanmu”. Setiap surat dari Al-Qur’an bermula dengan: “Dengan Nama Allah yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.”
Perintah itu adalah pengalaman pertama dari Muhammad berkenaan dengan wahyu kata-kata. Suatu gagasan yang amat penting dibawa oleh ayat-ayat yang diwayukan kepadanya kali itu. Muhammad diingatkan bahwa TUhan telah memilih dia sebagai perantara dalam membawa Pesan Ilahi kepada umat manusia. Kata Arab “iqra” mengandung makna ganda, membaca dan menyampaikan kata yang disabdakan. Pesan ini disampaikan kepada seluruh umat manusia atas nama Tuhan yang menciptakan alam semesta. Perhatian ditarik pada ketidak berartian asal mula manusia, akan tetapi jaminan yang menggembirakan mengikuti bahwa kemajuan dan perkembangan manusia berada dibawah asuhan Tuhan yang Mahapengasih, bahwa kasih Tuhan menentukan bahasa banyak dan berbagai jalan ilmu pengetahuan akan dibuka bagi manusia, dan bahwa semua pertambahan dan peningkatan ilmu pengetahuan ini akan dikembangkan lewat tulisan. Satu hal yang harus diingat dalam hubungan ini ialah bahwa Muhammad sendiri tidak bisa membaca dan menulis (29 : 49), dan bahwa kepandaian dalam membaca dan menulis adalah kelebihan dari segelintir orang pada waktu itu di Arabia.
Berbagai cara
Untuk seketika tak ada pengalaman lebih jauh tentang jenis yang serupa; dan kemudian Nabi mulai menerima wahyu pada waktu selang yang singkat. Dia telah menjelaskan pengalamannya secara gamblang: “Wahyu turun kepadaku dalam berbagai cara. Kadang-kadang berupa kata-kata langsung ke dalam hatiku, seperti bunyi sebuah lonceng, dan ini secara badani, berat untukku. Kadang-kadang aku mendengar kata-kata seakan-akan diucapkan dari balik tirai. Kadang-kadang aku melihat Malaikat yang menyampaikan kata-kata padaku”. Hal ini dibenarkan oleh Al-Qur’an (42 : 52-53).
Jadi adalah jelas bahwa wahyu dalam hubungan ini berarti wahyu kata-kata langsung, disampaikan pada seseorang dalam bentuk-bentuk tertentu seperti disebutkan. Ada pula betnuk-bentuk wahyu yang lain.
Tak lama kemudian Muhammad diperintahkan secara luas dan terbuka mengumumkan apa yang disampaikan kepadanya, dan berpaling dari orang-orang yang dianggap menyekutukan Tuhan (15 : 95). Usahanya untuk menyampaikan Pesan Ilahi kepada orang-orang disekitarnya, di Mekkah, pertama-tama hanya menarik ejekan orang padanya. Namun, empat orang menyatakan kesaksian beriman padanya sejak permulaan: istrinya, Khadijah; saudara sepupunya yang masih muda, Ali putra Abi Thalib, seorang anak2 laki yang baru berusia sebelas tahun; seorang yang dimerdekakannya, Zaid; dan sahabatnya, Abu Bakar.
Memilih
Zaid adalah seorang yang berbangsa, seorang anak muda yang cerdas, yang ditawan ketika umur belasan tahun dalam satu serbuan kesukuan, dan dijual dari satu tangan ke tangan lain sampai akhirnya dibeli oleh Khadijah, akan tetapi dia memilih untuk tinggal dengan sukarela bersama Muhammad. Beberapa waktu kemudian ayah dan pamamnya menyusulnya ke Mekkah dengan maksud menebusnya dari Muhammad. Nabi memberitahukan kepada mereka bahwa Zaid adalahs eorang yang merdeka dan karena itu tak ada persoalan tebusan. Gembira oleh berita itu, dia meminta puteranya untuk kembali bersamanya. Secara naluri Zaid amat terharu oleh pertemuan dengan ayah dan pamannya, terlebih-lebih atas pemberitahuan mereka bahwa ibunya sangat menderita selama masa perpisahan dengannya dan sudah tidak sabar menunggu kembalinya kepada keluarga. Dia mengakui daya ikat semua ini, tetapi dia mengatakan bahwa kelekatannya pada Muhammad sudah begitu kuat sehingga dia tidak dapat menanggung penderitaan berpisah dengannya. Dia mengirimkan salam kecintaan kepada ibunya, tetapi tetap dalam keputusannya untuk tidak meninggalkan Muhammad. Ketika Muhammad mengetahui bahwa Zaid memutuskan untuk tinggal bersamanya, dia membawanya ke Ka’bah, dan di hadapan ayah dan pamannya dia memberitahukan bahwa Zaid bukan hanya seorang merdeka akan tetapi sejak itu dia akan diperlakukan sebagai puteranya sendiri.
Mulut yang tidak bohong
Abu Bakar, sedang berpergian dari Mekkah pada waktu Nabi mengumumkan risalahnya, dan ketika dia kembali mendengar kabar bahwa sahabatnya, Muhammad ditimpa penyakit jiwa, karena, dia telah mengumumkan bahwa Tuhan memerintahkannya untuk mengatakan Keesaan Tuhan dan mencela berhala-berhala. Abu Bakar, ketika mendengar hal itu, mengatakan; “Mulut itu tidaklah bohong. Kemudian dia mencari Nabi menanyakan apakah yang didengarnya itu benar. Nabi mencoba menerangkan akan tetapi Abu Bakar mendesak bahwa pertanyaannya harus dijawab ya atau tidak. Nabi kemudian mengiakan bahwa apa yang didengar oleh Abu Bakar adalah benar. Abu Bakar berkata: “Aku percaya”. Dia menambahkan bahwa dia tidak ingin mendengar sesuatu keteranganpun untuk tahap ini, dengan alasan keyakinannya yang kuat bahwa Muhammad tidak bisa mengucapkan ketidak-benaran, apalagi membuat kebohongan terhadap Tuhan.
Empat orang ini bergabung dengan Nabi dan berusaha membantunya untuk menyebarkan Cahaya Ilahi. Ketika hal ini diketahuiorang-orang Mekkah, mereka mentertawakannya dengan berbagai ejekan. Akan tetapi mereka tidak bisa tertawa lebih lama. Wahyu demi wahyu turun, “hukum bertambah hukum, hukum bertambah hukum, syarat bertambah syarat, syarat bertambah syarat, di sini sedikit di sana sedikit” (Yesaya 28:13) hingga banyak yang ingin tahu dan beberapa orang mulai tertarik padanya.
Di antara orang-orang yang masih melawan, ejekan berobah menjadi kegelisahan besar. Mereka dibangkitkan oleh kenyataan bahwa risalah Muhammad yang diumumkan mengancam seluruh cara hidup dan satu-satunya mata pencaharian mereka. Apabila menyembah berhala dilarang, mereka pikir, Mekkah akan berhenti menjadi tempat ziarah bagi orang-orang yang berhaji, akan kehilangan kedudukannya sebagai kota utama, dan akan mengalami kemerosotan usaha-usaha utamanya. Bahkan kafilah-kafilah dagang bisa serentak berpaling dari Mekkah. Maka itu, diputuskan untuk menindas dengan kekerasan ancaman terhadap kemantapan cara hidup dan kemakmuran mereka.
Wanita mulai menengadah
Ajaran baru itu membuat suatu daya tarik yang kuat untuk orang-orang yang lemah dan tertindas. Para budak, yang menderita kesengsaraan dan penghinaan yang sangat besar, mulai menaruh harapan bahwa risalah Nabi mungkin membawa penyelamatan untuk mereka. Kaum wanita yang dalam beberapa hal diperlakukan lebih jelek daripada binatang, mulai menengadah dan merasa bahwa waktu sudah hampir di mana mereka bisa memperoleh martabat dan kedudukan terhormat di samping ayah, suami dan anak-anak mereka. Para pemuda diilhami dengan gagasan tentang kehidupan yang terhormat dan bermartabat. Para penganut permulaan datang dari golongan-golongan ini. Karena kelompok kecil itu terus makin bertambah jumlahnya, orang-orang Mekkah memulai cara penyiksaan yang menjadi lebih kejam dan lebi ganas dari waktu yang sudah-sudah, namun usaha mereka gagal untuk menahan kemajuan ajaran baru tentang Keesaan Tuhan, kemuliaan dan persamaan manusia, dan tujuan luhur dan mulia dai hidup manusia.
Tak seorangpun yang selamat dari penganiayaan, bahkan Nabi sendiri juga tidak, yang selalu dihadapkan pada semua jenis penghinaan dan gangguan. Tetapi yang menderita akibat sangat buruk adalah para budak yang menerima Islam, dan majikan-majikan mereka menimpakan siksaan yang tak terpikulkanpada mereka dalam usaha yang sia-sia untuk memaksa mereka menarik diri kembali. Mereka dibawa keluar selama panas yang menghanguskan dari matahari siang, dan ditelentangkan di atas pasir dan batu yang membakar, sedangkan batu dan krikil yang kena panas matahari ditimbunkan di atas tubuh mereka yang telanjang. Bahkan di dalam kota, anak-anak dihasut utnuk menjadikan mereka korban dari permainan yang kejam.
Mereka mengikatkan tali pada pergelangan kaki dari seorang budak dan “menghelanya sepanjang jalan yang tidak rata, batu-batu yang berigi-rigi, meninggalkan padanya sejumlah luka-luka yang terkoyak dan sayatan-sayatan yang berdarah. Beberapa orang tewas di bawah siksaan seperti itu. Juga perempuan tidak dima’afkan, beberapa di antara mereka dihadapkan pada siksaan yang tidak mengenal malu dan tidak pantas disebutkan.
Penderitaan jiwa
Jiwa Nabi menderita oleh kesengsaraan-kesengsaraan yang ditimpakan pada pengikut-pengikutnya yang tak berdaya, tanpa alasan kecuali ucapan mereka bahwa “Hanya Allah Tuhan kami.” Dia tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong nasib diri dan pengikut-pengikutnya. Dia menasehati agar sabar dan tabah serta menjamin bahwa Tuhan akan memberi mereka kelepasan.
Orang-orang Kuraisy yang menjadi makin dan bertambah cemas terhadap serangan yang dibuat oleh ajaran baru itu, mengirim utusan kepada Abu Thalib, paman Nabi. Mereka menuntut bahwa walaupun cacian kemenakannya terhadap penyembahan berhala tidak da[at dibiarkan oleh mereka, sejauh mungkin mereka masih menahan diri dari mengambil tindakan yang keras karena hormat pada Abu Thalib yang merupakan seoragn pemimpin yang disegani dan perlindungannya terhadap Muhammad diterima. Apakah Abu Thalib tidak bisa menmbujuk kemenakannya untuk berhenti mengajarkan ajaran baru, barangkali karean ancaman hukuman pemutusan kekeluargaan. Mereka merencanakan bahwa apabila Abu Thalib tidak menerima cara ini, mereka akan memaksa untuk meniadakan kepemimpinannya atas mereka.
Abu Thalib setuju untuk berbuat apa yang mungkin ia lakukan. Tetapi ketika dia berbicara dengan tenang pada kemenakannya, menyampaikan apa yang dikatakan utusan itu, Muhammad dengan tegas menjawab bahwa, sekalipun merasakan kesulitan pilihan pamannya, dia menerima perintah Ilahi yagn tidak bisa ditawar.
“Jangan tinggalkan kaummu, paman”, kata Muhammad. “Aku tidak meminta paman memihak aku. Paman bisa menyangkal aku seperti yang mereka usulkan. Bagiku, Tuhan yang Mahaesa adalah saksiku ketika aku mengatakan bahwa walaupun mereka meletakan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku aku tidak akan berhenti mengajarkan kebenaran yang Tuhan perintahkan. Aku harus berjalan terus sampai ke ujung.
Terbenam dalam renungan
Abu Thalib terbenam dalam renungan yang dalam. Dia sendiri tidak menyatakan keimanannya terhadap risalah Nabi akan tetapi dia sangat mendintai kemenakannya dan merasakan gelombang kebanggaan pada keputusan Muhammad yagn teguh dan hormat, yang telah dia nyatakan, untuk menjalankan risalahnya seperti diperintahkan Tuhan. Akhirnya dia mengangkat kepalanya sambil berkata: “Anak saudaraku, pergilah sesukamu; kerjakan kewajibanmu seperti apa yagn engkau pahami; kaumku bisa tidak mengakuiku lagi tetapi aku akan berada di pihakmu”.
Oleh karena kecepatan penyiksaan yang makin keras terus meningkat, Nabi menganjurkan beberapa orang pengikutnya untuk meninggalkan Mekkah dan mengungsi menyeberangi Laut Merah ke Ethopia di mana mereka akan mendapat keadaan yang lebih baik di bawah pemerintahan Kaisar Kristen. Serombongan kecil di bawah pimpinan seorang sepupu Nabi berangkat ke Ethopia. Suatu perutusan Kuraisy menyusul mereka dan meminta kepada Kaisar agar para pelarian itu diserahkan kepada mereka. Kaisar mendengarkan kedua belah pihak dan kemudian menolak permintaan orang-orang Mekkah.
Kemudian perutusan Kuraisy merencanakan suatu muslihat yang lihai. Dengan pergi kepada uskup dan pembesar geraja Kristen yang lain, mereka menuduh bahwa pengikut Nabi tersangkut dengan kepercayaan baruvyang tidak menghormati Isa. Mereka mengharap bahwa hal ini akan membangkitakn kemarahan Kaisar dan Pengadilannya terhadap para pelarian, dan orang-orang Islam akan diusir dari negeri itu dengan memperoleh malu. Ketika Kaisar memanggil kembali kedua belah pihak ke hadapannya, para uskup dan bangsawan menuntut bahwa orang-orang pelarian Mekkah itu patut menerima ketidak seimpatian sehubungan dengan apa yang dikatakan oleh orang-orang Kuraisy.
Kaisar meananyakan hal ini pada orang-orang Islam, yang menjawab bahwa hal itu jauh dari benar, bahwa mereka sangat menghormati Isa dan bunda Mariyam serta mempercayai Isa sebagai Nabi Tuhan yang suci. Pemimpin mereka, saudara sepupu Nabi, mengutip ayat-ayat Al-Qur’an yagn berhubungan dengan hal itu untuk mendukung keterangan mereka (19:17-41). Kaisar yang terkesan dalam oleh pembacaan itu, mengakui kebenaran ayat-ayat tersebut dan menyatakan secara positif bahwa dia percaya pada Isa seperti yang telah dibacakan, tidak kurang dan tidak lebih. Dia mengeluarkan orang-orang Kuraisy dan memberitahukan kepada orang-orang Islam bahwa mereka bisa tinggal di negeri itutanpa khawatir oleh sesuatu gangguan.
Pemimpin berani
Sekitar masa itu, orang-orang Islam yang dikejar-kejar dan diganggu di Mekkah beroleh sedikit pertolongan dan hiburan dengan masuk Islamnya Umar. Umar terkenal sebagai seorang pemimpin Mekkah yang bereni dan perkasa. Banyaknya kerusuhan karena pertikaian yang timbul di Mekkah sebagi akibat ajaran baru yang dibawa oleh Muhammad, membuat dia mengambil keputusan untuk mengakhirinya samasekali dengan membunuh Muhammad. Di tengah jalan ketika mencari Nabi, dia dicegat oleh kawannya yang bertanya dia mau pergi ke mana. Umar menjelaskan rencananya, dan kawannya memberikan ajwaban yang tepat bahwa dia harus lebih dahulu melihat keluarganya yang lebih dekat, karena saudara perempuan dan iparnya telah memeluk agama Islam. Dengan meradang, Umar mengamuk ke dalam rumah iparnya dan dengan kekerasan menghentikan bacaan Al-Qur’an yang sedang didengarkan oleh saudaranya suami-istri. Umar menghunus pedangnya hendak menyerang iparnya, tetapi saudara perempuannya menangkis pukulan itu, dan menderita sedikit cedera yang mengeluarkan darah.
Hal ini menghentikan kekerasan Umar lebih lanjut, dan akhirnya dia menanyakan apa yang didengarnya sedang dibacakan kepada mereka.
Umar mendengarkan bacaan itu (20:15-17) dan menakjubinya. “Sesungguhnya ini adalah kebenaran”, katanya. Terus saja dia temui Muhammad dan menyatakan ke Islamannya.
Penerimaan Umar terhadap Islam diterima dengan bersemangat oleh orang-orang Islam, yang sampai saat itu selalu berkumpul secara sembunyi-sembunyi dan melakukan Ibadah lima waktu di belakang pintu tertutup. Sekarang mereka merasa, bahwa dengan beradanya Umar ditengah-tengah mereka, mereka bisa menyembah Tuhan dengan terang-terangan.
Diblokade
Akan tetapi, Islamnya Umar tidak membawa perobahan sedikitpun dalam sikap orang-orang Mekkah. Umar diperlakukan dalam cara yang sama dengan orang-orang Islam lainnya. Pengejaran menjadi lebih keras dan hebat. Dengan tujuan membuat mereka kelaparan, pemboikotan yang ketat terhadap orang-orang Islam dan orang-orang yang memihak mereka lakukan. Sekelompok kecil orang-orang Islam bersama beberapa keluarga Nabi, yang walaupun tidak percaya pada risalahnya namun memihak dia melawan pengejaran orang-orang Mekkah, diblokade dengan ketat di tanah yang sempit kepunyaan Abu Thalib. Hubungan dengan mereka untuk tujuan apapun dilarang.
Namun usaha ini juga gagal Nabi dan para sahabatnya, menolak untuk mempertimbangkan pendapat untuk menyerah atau berunding mengenai masalah yang begitu luhur, dan dengan tabah menahan keadaan yang sangat kekurangan. Pada waktu malam beberapa orang dari mereka menyelinap untuk memperoleh sedikit bekal dari orang yang mereka tahu menaruh simpati tetapi tidak berani memperlihatkan sikap baik mereka itu. Namun, seringkali, tak ada apa-apa kecuali lapar dan mereka berusaha meredakan lapar dengan rerumputan dan dedaunan.
Kejadian itu terus berlangsung selama hampir tiga tahun hingga akhirnya lima orang Mekkah terkemuka memberikan reaksi atas kekejaman dan kebiadaban dari sesama penduduk mereka, dan memberitahu bahwa mereka berkeinginan mengajak Nabi dan sahabat-sahabatnya keluar dari tempat pemencilan diri mereka dan pergi melakukan pekerjaan mereka seperti sediakala. Demikianlah blokade itu hapus. Akan tetapi kekurangan dan kesukaran yang diderita oleh orang-orang Islam berakibat fatal pada kesehatan Khadijah dan Abu Thalib. Khadijah meninggal dalam waktu beberapa hari dan Abu Thalib wafat satu bulan kemudian.
Ke Thaif
Walaupun pemboikotan sudah dihapuskan, rintangan ditempatkan pada jalan yang dilalui Nabi untuk mencegah hubungan tetap dengan orang-orang sekotanya. Kematian istrinya yang setia dan tercinta melenyapkan sumber kesenangan dan hiburan dunia yang utama, dan kematian pamannya menghilangkan tempat berlindungnya dari perlakuan jelek dan pengejaran yang lebih hebat. Dengan berbagai cara musuh-musuhnya membuatnya hampir tidak mungkin meninggalkan rumahnya untuk menyampaikan risalah kepada sesuatu kelompok dari penduduk Mekkah atau orang-orang yang mungkin berkunjung ke sana. Karena keadaan itu Muhammad mengambil keputusan untuk pergi ke Thaif, sebuah kota kira-kira enam puluh mil di sebelah tenggara Mekkah, yang juga merupakan tempat yang dikunjungi oleh para penziarah dan keadaanya lebih menyenangkan dari Mekkah sendiri. Penduduk Thaif mempunyai hubungan dagang yang erat dengan penduduk Mekkah. Mereka melakukan pertanian dan perkebunan buah-buahan untuk menambah usaha dagang mereka. Dalam perjalanan ke Thaif, Nabi ditemani oleh Zaid, budaknya yang sudah dimerdekakan.
Di Thaif beberapa penduduk kota yang terkemuka menerima Muhammad dan membebaskannya berbicara, tetapi kurang memperhatikan risalahnya. Setelah sesaat, mereka bahkan menunjukkan tanda-tanda kecemasan kalau-kalau penerimaan atas kedatangannya di Thaif melibatkan mereka pada pertikaian dengan orang-orang Mekkah. Karena itu mereka membiarkan dia diperlakukan di jalan oleh anak-anak nakal dan rakyat jelata yang tinggal di kota. Akhirnya Nabi dan sahabatnya diusir dengan teriak olokan dan cemoohan orang-orang yang melempari mereka dengan batu. Keduanya luka-luka dan berlumuran darah ketika meninggalkan Thaif.
Dengan susah payah mereka menghela diri sepanjang jalan, dan ketika sudah jauh di luar kota mereka berhenti di kebun kepunyaan dua orang Mekkah. Si empunya, yang ketika itu kebetulan berada di kebun, termasuk pengejar Muhammad di Mekkah, tetapi saat itu merasa agak kasihan pada teman sekota mereka dan mengijinkannya beristirahat barang sebentar. Sebentar kemudian mereka mengirim setangkai anggur yang dibawa oleh seorang budak yang beragama Kristen. Budak ini, Addas namanya, termasuk orang Nineveh. Nabi mengangkat anggur dan sebelum memasukkan ke mulutnya dia membaca apa yang menjadi do’a orang-orang Islam sebelum makan: “Bismillahir-Rahmanir-Rahim”. Hal ini menimbulkan keheranan pada Addas yang menanyakan apa siapa orang asing itu. Nabi memberitahukan kepadanya dan percakapan itu mengakibatkan Addas menyatakan keIslamannya, sehingga perjalanan Nabi ke Thaif tidak gagal sama-sekali.
Masalah sukar
Sekarang dia mempunyai masalah yang sukar untuk dipecahkan. Dia telah meninggalkan Mekkah dan telah ditolak oleh orang-orang Thaif. Menurut kebiasaan orang-orang Mekkah dia tidak bisa kembali kecuali masuknya kembali itu dijamin oleh beberapa orang Mekkah terkemuka. Tak ada tempat lagi untuk pergi. Dia berdo’a untuk mendapatkan cahaya, petunjuk dan pertolongan, dan kemudian berangkat kembali ke Mekkah bersama Zaid. Dia berhenti di tengah perjalanan di suatu tempat yang bernama Nakhla selama beberapa hari dan mengirimkan pada Mut’im bin ‘Adi, seorang penduduk Mekkah terkemuka, menanyakan apakah dia bisa diizinkan kembali ke Mekkah. Mut’im menjawab bahwa dia besedia menjamin beliau untuk masuk kembali ke Mekkah, dan ketika Muhammad sampai di Mekkah Mut’im bersama puteranya menjemputnya di luar kota dan mengiringinya kembali ke dalam kota.
Tetapi di seluruh Mekkah permusuhan tetap seperti sebelumnya dan orang-orang Mekkah berketetapan hati agar ajaran yang diajarkan Muhammad tidak beroleh tumpuan di antara mereka. Mereka berusaha menciptakan kehidupan yang tidak mungkin bagi Muhammad dan pengikutnya di Mekkah.
Do’a-do’a Muhammad dan wahyu-wahyu yang turun kepadanya tetap menjadi satu-satunya hiburan dan kekuatannya. Wahyu-wahyu terakhir mulai memberi isyarat kepadanya untuk meninggalkan Mekkah. Mekkah adalah kota kelahirannya, di mana dia menghabiskan seluruh hidupnya, di mana dia kawin, di mana anak-anaknya dilahirkan dan di mana Wahyu Ilahi turun kepadanya. Walaupun pengejaran yang pahit dan kejam terus-menerus diderita oleh diri pengikut-pengikutnya, hatinya lebih lekat pada kaumnya dan dia tahu bahwa perpisahan, kapanpun terjadinya, merupakan beban dirinya yang sangat berat.
Akan tetapi seluruh hidupnya diabadikan pada risalahnya dan dia sudah siap melaksanakan dengan sepenuh semangat apa yang diridhai Tuhan. Akan tetapi gambaran suram ketika meninggalkan Mekkah diperlunak oleh jaminan Ilahi bahwa Tuhan pasti akan mengembalikannya ke Mekkah (28:86).
Ketentuan kepindahannya yang akan datang terjadi sebagai akibat dari suatu cara yang telah lama dijalankan Nabi, seperti percobaan mengadakan hubungan dengan berbagai golongan dari daerah lain yang mengunjungi Mekkah pada waktu musim haji, dan berusaha menarik mereka pada risalah dan ajaran yang dibawanya. Pada suatu kali dia bertemu dengan rombongan sekitar enam atau tujuh penziarah dari Medinah, ketika itu dikenal sebagai Yatsrib, yang berkemah di suatu lembah di luar kota Mekkah. Pada waktu itu Medinah didiami oleh dua suku Arab dan tiga suku Yahudi. Suku-suku Arab — Aus dan Khazraj — adalah penyembah berhala, akan tetapi beberapa orang terkemuka sudah mengenal baik tradisi-tradisi Yahudi. Mereka telah mendengar dari orang-orang Yahudi yang tinggal sekota dengan mereka bahwa kaum Yahudi mengharapkan kedatangan seorang Nabi yang telah dinubuwatkan dalam Kitab Suci mereka (Ulangan 18:18).
Mulai tertarik
Orang-orang yang ditemui Muhammad waktu itu termasuk suku Khazraj. Ketika dia memberitahu mereka bahwa Tuhan telah menunjuknya sebagi Rasul dan telah membebaninya tugas menyampaikan suatu ajaran untuk seantero umat manusia, mereka mendengarkannya dengan bersemangat. Akhirnya mereka menyatakan keimanan mereka pada risalah dan ajaran yang dibawanya, sambil bersedia menyampaikannya pada kawan sekota mereka dalam perjalanan kembali ke Medinah.
Tahun berikutnya, dua belas orang Medinah mewakili kedua suku bangsa, AUs dan Khazraj, datang berhaji dan menjumpai Nabi secara diam-diam. Adalah diperlukan kehati-hatian kalau-kalau orang-orang Mekkah mendengar mereka memeluk agama Islam dan mencoba menimbulkan kesukaran bagi orang-orang Medinah yang menjalankan upacara haji. Ketika Nabi menerangkan risalahnya secara lebih terperinci pada mereka, mereka menyatakan penerimaan mereka pada agama Islam, dan juga kesiapan kebanyakan orang di Medinah untuk menerimanya. Nabi meminta mereka untuk memastikan dari saudara-saudara Muslim mereka dan saudara-saudara sekutu mereka, apakah mereka mau memberikan perlindungan kepada orang-orang Islam Mekkah yang diganggu dan dikejar-kejar. Mereka menjanjikan untuk memberikan jawaban kembali pada tahun berikutnya. Akan tetapi sebelum tahun berakhir, Nabi terpaksa mengirim seorang ke Medinah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ingin mengetahui ajaran Islam yang dikemukakan oleh orang-orang sekutu seperti laporan mereka dalam pertemuan dengan Nabi. Mus’ab, seorang Muslim Mekkah yang dikirim ke Medinah mengajar pemeluk-pemeluk Islam baru tentang ajaran dan aturan-aturan agama.
Sementara itu, pengejaran yang memuncak di Mekkah membuat kehidupan tambah tak tertahan bagi orang-orang Islam. Ketika musim haji datang kembali, suatu peerutusan yang besar dan representif dari Medinah, termasuk dua orang wanita, menemui Nabi dan meyakinkannya bahwa kaum mereka di Medinah tidak hanya siap menerima dan melindungi saudara-saudara seiman mereka dari Mekkah, akan tetapi mereka sangat bersemangat dan memperolah kehormatan yang besar untuk menerima Nabi sendiri jika memutuskan pergi ke Medinah.
Menjelaskan tanggung jawab
Dalam kesempatan ini Nabi ditemani oleh pamannya, Abbas, yang meskipun dia belum menerima Islam, senang pada Nabi dan khawatir akan keselamatannya. Dia memperingatkan perutusan orang-orang Medinah bahwa mereka memikul suatu tanggung jawab yang berat dengan mengundang Nabi ke Medinah. Kaum Kuraisy akan mengejarnya dengan dendam dan merangsang kaum-kaum lain untuk melawan dan orang-orang yang bertalian dengannya di Medinah. Dia meminta mereka untuk berhenti dan berfikir sebelum mereka menderita akibat keterlibatan karena ajakan mereka. Ia menunjukkan bahwa walaupun Mekkah sangat memusuhi Nabi, kaum kerabatnya membelanya dan akan memberikan perlindungan sejauh kemampuan mereka. Di Medinah, dia akan dihadapkan pada setiap bahaya dan malapetaka.
Pemimpin perutusan orang-orang Medinah itu menjawab bahwa mereka dan kaum mereka telah mempertimbangkannya dengan seksama tentang bahaya-bahaya itu dan percaya sesuatu resiko yang diakibatkannya adalah tidak berarti. Mereka akan menjaga Nabi dengan jiwa mereka, dan tak akan ada cedera apapun akan membencanai Nabi selama salah seorang mereka masih hidup untuk mencegahnya. Abbas mencoba menasehati Nabi supaya jangan menerima ajakan yang diberikan oleh perutusan Medinah. Namun Nabi mengambil keputusan bahwa kaum Muslimin Mekkah harus pindah ke Medinah dan untuk dirinya sendiri dia akan menunggu perintah Tuhan. Kemudian Nabi menasehati anggota-anggota perutusan agar menertibkan kehidupan mereka sepenuhnya sesuai dengan perintah Tuhan dan Kehendak-Nya, dan menyampaikan ajaran Islam kepada setiap orang.
Kemudian dia kembali ke Mekkah.
Kaum Muslimin di Mekkah diberitahu bahwa saudara-saudara mereka di Medinah siap menerima mereka dan bahwa orang-orang yang mampu meninggalkan Mekkah agar segera ke Medinah dengan diam-diam dan tanpa menimbulkan kegoncangan. Keluarga demi keluarga membuat persiapan dan berangkat secara sembunyi-sembunyi. Orang-orang Mekkah menemukan bahwa rumah demi rumah yang didiami oleh kaum muslimin dikosongkan sehingga kadang-kadang dalam satu minggu satu kompleks perumahan menjadi kosong. Dalam saat singkat apa yang terjadi kemudian adalah bahwa pria muslim dewasa yang masih tinggal di Mekkah cuma Nabi, Abu Bakar dan Ali, dan sejumlah kecil budak yang dalam hal ini tak punya pilihan. Orang-orang Mekkah cemas bahwa Nabi mungkin segera pindah ke tempat yang tak bisa mereka capai, dan mereka mengambil keputusan membunuhnya dengan kekerasan pada satu malam tertentu. Pada saat itu, Nabi menerima perintah Tuhan untuk meninggalkan Mekkah, dan kebetulan malam yang ditetapkan untuk keberangkatannya adalah malam yang dipilih musuh-musuhnya untuk rencana pembunuhan mereka. Abu Bakar, yang mendengar dari Nabi tentang keputusan untuk meninggalkan Mekkah, menanyakan apakah dia diizinkan untuk menemani dan Nabi mengiyakan.
Meninggalkan Mekkah
Pada sore berikutnya Nabi meninggalkan rumahnya begitu siang menjadi gelap ketika orang-orang yang merencanakan mengakhiri hidupnya berkumpul di sekeliling rumah sendiri-sendiri dan berkelompok dua-dua, dan langsung menemui Abu Bakar. Kemudian dua orang itu berangkat ke luar dari Mekkah dan naik melingkari bebukitan, untuk berlindung dalam sebuah gua yang disebut “Tsaur”, yang mempunyai lobang masuk begitu sempit hingga seseorang harus merebahkan diri dan merayap ke dalamnya. Tempat itu bukanlah begitu aman untuk tinggal di dalamnya, karena di sana terdapat bahaya besar, berupa ular berbisa. Tetapi barangkali mungkin justru karena alasan itu benar tempat itu menjadi aman dari pengejaran dan penemuan kembali.
Malam itu orang-orang yang ingin membunuh Nabi menemukannya tidak berada di rumah. Ketika fajar menyingsing mereka berunding bersama dan mengambil keputusan untuk mengikuti jejaknya, yang kemudian mereka lihat bergabung dengan jejak Abu Bakar. Si pencari jejak kemudian melanjutkan perjalanan bahwa mereka mendaki bukit ke mulut gua dan di situ jejak itu menghilang.
“Pelarian-pelarian tidak pergi lebih jauh; mereka masuk ke bumi atau naik ke langit’, kata si pencari jejak dengan bingung, Yang lain mengejeknya, karena tak ada satu tempatpun untuk seseorang selain masuk gua, dan kemungkinan ini mereka kecualikan. Siapa yang akan mau mengambil resiko mengalami cedera badan berat, dan mungkin mati, karena ular beludak berbisa memenuhi dalam dan sekitar gua itu?
Di dalam Abu Bakar mendengar suara orang-orang itu, dan lewat lobang gua yang sempit dia bisa melihat beberapa orang dari mereka bergerak ke sana ke mari. Dia sangat khawatir, karena tahu kalau tempat persembunyian mereka diketamukan bencana akan menimpa Nabi. Ketika dia menyatakan kekhawatirannya, Nabi menjawab: “Jangat takut. Kita tidak cuma berdua; ada orang ketiga bersama kita, Tuhan” (9:40).
Para pengejar kembali ke Mekkah dengan gagal mencapai tujuan mereka, tetapi terus bersikeras dengan maksud mereka. Mereka mengumumkan bahwa barangsiapa membawa kembali pelarian-pelarian itu, hidup atau mati, akan menerima hadiah seratus ekor unta. Dan ini disiarkan secara luas ke seluruh Mekkah.
Nabi dan Abu Bakar tinggal selama dua hari dua malam di gua itu. Tiap malam, seorang gembala yang bekerja pada Abu Bakar, yang telah diperintahkan mengembalakan domba-dombanya ke dekat gua, membawa domba betina ke dekat pintu dan memerah susu untuk majikannya dan sahabatnya. Beberapa perlengkapan dikirim dari Mekkah oleh puteri Abu Bakar, Asma. Pada malam kedua, Abu Bakar mengirim pesan pada seorang pembantunya di Mekkah, memintanya membawakan dua ekor unta ke gua pada waktu senja berikutnya, yang khusus disediakan Abu Bakar untuk kepentingan ini, bersama seorang penunjuk jalan yang terpercaya untuk membawa mereka ke Medinah. Rombongan empat orang, kemudian memulai perjalanan ke Medinah.
Mereka belum maju jauh dari Mekkah ketika seorang pemimpin Badwi, Suraqah, berusaha memotong jalan mereka dengan harapan mengembalikan mereka kepada orang-orang Mekkah, dan karena itu akan menggondol hadiah yang telah disediakan. Ia dinasehatkan supaya jangan meneruskan maksudnya, menyerah pada Nabi, dan kemudian rombongan itu meneruskan perjalanan.
Sepuluh hari setelah meninggalkan Mekkah, rombongan kecil itu sampai di dekat Medinah di mana mereka disambut dengan gembira oleh orang-orang Islam Medinah dan orang-orang Islam Mekkah yang telah mendahului mereka. Nabi memutuskan untuk berhenti beberapa hari di Quba, suatu daerah luaran kota Medinah, dan ke Medinah. Sesampainya di Medinah, tindakannya yang pertama adalah membeli tempat di mana untanya berhenti, dengan maksud membangun mesjid di atasnya. Kemudian dia menerima tawaran dari seorang agar untuk sementara tinggal di rumahnya yang berdekatan dengan tempat yang telah dipilih itu, selagi mesjid itu dan perumahan yang berdampingan dengan itu sedang dibangun. (Muhammad Zafrullah Khan-Sinarislam. Wordpress.com)



Tidak ada komentar: