Matahari telah naik begitu tinggi. Rumput telah kering dari siraman embun tadi pagi.
Masyarakat keluar rumah, dan bersibuk dengan aktivitasnya masing masing. Mereka begitu ceriah dengan dinaungi langit biru berhiaskan sedikit awan putih.
Suasana ceria itulah yang tergambar di lapangan terbuka di Keluarahan Bagak Sahwah. Sejak pagi, masyarakat berkerumun bersama di sana, di sebuah rumah panjang. Rumah kayu dengan beragam lukisan dan ukiran.
Rumah itu bernama Rumah Parauman Adat (RPA). Rumah ini milik masyarakat adat Dayak Binuo Garatung Singkawang. Masyarakat dari sub adat Dayak Salako. Di rumah itu akan digelar sebuah ritual adat.
“Hari ini kita akan menggelar ritual Ngamau Benih Padi,” kata Ketua Data Binuo Garatungk Singkawang, Simon Takdir.
Dalam adat Dayak Salako, Ritual Ngamau Benih Padi biasa dilakukan pada akhir bulan Mei. Atau satu hari sebelum ritual Ngabayotn, yang dilaksanakan pada tanggal satu bulan Juni.
Nagmau Benih padi bearti menyambut kedatangan benih padi. Benih padi itu akan didoakan olah para pelaku adapt adapt bersama masyarakat agar mendapatkan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa (Jubata). Untuk didoakan, benih padi itu di bawah ke halaman RPA.
Sebelum penyambutan benih padi (Ngamau Banih Padi), sehari sebelumnya, masyarakat Bino Garatung telah melakukan ritual Ngaap Banih Binuo. Riatual penjembutan benih dari daerah daerah tempat masyarakat dayak bermukim. Rute daerahnya, Mayasopa, Pasar Pakucing, Sendoreng, Rantau, Sibaju, Sagatani, Habang, Sanggau Kulor, Pajintan, Poteng, Taenam, Nyarungkop.
Kemudian semua banih yang telah dijemput itu kemudian dimasukkan dalam Angko. Angko adalah rumah kecil yang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan benih padi yang telah diperoleh melalui ritual Ngaap Banih Bino. Rumah itu terbuat dari kayu, beratapkan daun.
***
Dari jauh, terlihat belasan orang penari menyelusuri jalan memasuki lapangan tempat RPA didirikan. Langkah kaki berirama bersama liukan tangan yang gemulai. Wajah berhiasan senyuman. Tidak bosan bila dipandang.
Dengan jarak tempuh lebih dari seratus meter. Para penari itu tidak terlihat letih. Padahal para penari itu tidak lagi muda. Bila diterka, umar mereka di atas tiga puluh atau empat puluh tahun. Para pernari itub terdairi dari kaum wanita dan pria.
“Tarian ini oleh kami diberi nama tarian Narokng,” kata Hendri, salah seorang masyarakat dayak yang tegabung dalam Binuo Garatungk.
Tarian Narokng bertujuan untuk mengiringi Angko yang dibawa oleh penari pria. Angko itu kemudian diletakkan di halaman RPA. Di atas RPA, telah bersiap para pemuka adat yang bertugas untuk memanjatkan doa. Di natara orang itu terdapat beberapa barang untuk pemujaan, seperti ayam, arak, tuak, cucur, lemang, dan beberapa barang laiinya.
Belum selesai pemanjatan doa dilakukan, beberapa meter dari lokasi terdengar ledakan. Walau tidak begitu besar, suaranya cukup mengganggu pendengar walau sesaat. Suara itu bersal dari mulut meriam berbentuk kecil yang sengaja dinyalakan.
‘Ledakan itu sebagai petanda bahwa pemanjatan doa telah dilakukan. Itu namanya tembakan Rantako,” kata Hendri lagi.
Dengan suara tembakan Rantako, ritual adapt telah selesai. Dengan acara itu, masyarakat adat optimis dengan musim tangan yang akan datang. Doa terpanjat, dengan harapan, Jubata memberkahi penanaman.
Minggu, 31 Mei 2009
Tarian Narokng dan Tembakan Rantako
Diposkan oleh
Mujidi
di
07:37
0
komentar
Buis Bantatn Untuk ‘Jubata’
Gawe naik dango merupakan bentuk rasa syukur masyarakat dayak kepada Jubata atau Tuhan Yang Maha Esa atas rahmatnya pada para petani dalam mengelolah lahan pertanian, khususnya hasil berladang. Dalam naik dango, kerap kali diramaikan dengan kegiatan presembahan.
Ketua Dewan Adat Dayak Kota Singkawang, Aloysius Kilim mengatakan, dalam Dayak Kanayant, acara persembahan dikenal dengan buis bantatn. Buis bantatn ini berupa seperangkat bahan persembahan yang disajikan yang diperuntukkan kepada tuhan.
Untuk memperkenalkan kepada warga, ritual buis bantatn ini dipergakan dalam acara penutupan naik Dango Kota Singkawang, Rabu (27/5).
Buis bantatn itu diikuti semua paguyuban. Masing masing paguyuban membawa barang sesembahannya. Kemudian, semua berkumpul menjadi satu untuk mengikuti ritual ayng dipimpin oleh seseorang yang telah dipercayai.
Buis bantatn merupakan satu dari puluhan bahkan ratusan istilah. Dikatakan, masing masing suku dayak memiliki istila tersendiri. Akan tetapi, perbedaan istilah tidak mengubah substansi dan tujuannya sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang diberikan oleh Tuhan kepada hambahNya.
Sesuai kepercayaan masyarakat dayak, barang barang yang kerap kali disajikan untuk dipersembahkan itu terbagi dua. Pertama, dikenal dengan kepala buis, ke dua lebih dikenal dengan bobotn manuk.
Kepala buis berisikan, panekng unyit mata beras atau beras yang dicampur dengan kunyit. ai’ ka solekng atau air dalam bamboo, ai’ basasah nyangkama’ buis supaya ame babadi ba mangka’ baik kapayangahatn mau pun ka diri’ semua, yang dalam bahasa Indonesia bearti air untuk membersihkan semua agar upacara adapt tidak berefek negative bagi imam dan warga lainnya.
Kepala buis juga berisi baras atau bantatn, adalah sebagai pangalap, mataki jubata nang mao disaru’. Menjemput dan memberitahu kepada yang Maha Kuasa untuk dapat menghindari pesta yang diselenggarakan.
Beras sasah, beras dicampur ai’, yang tujuannya nyasah kata nang cabar atau ina’ sinunuh, membersihkan mungkin ada kata kata warga yang salah dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Langir minyak juga menjadi bagian kepala buis. Kulit langir yang dicampur minyak makan yang bertujuan meminta palaju’, palayo’ supaya pakarajaatn berhasil. Artinya kulit buah langir dicampur minyak makan yang bertujuan agar yang dikerjakan membawa keberhasilan.
Dalam buis bantatn juga terdapat tapukng tawar, tujuannya kade’ diri’ mengalami kecelakaan, misalnya luka terkena benda tajam. Luka itu kemudian ditawari dengan tepung tawar.
Untuk babotn manuk berisikan angkak yang terdiri dari tuju rusuk babont. Ada juga sigah, bamapm, kobet, karama panyangahatn, serta yang terakhir adalah rangkakng manok dan ati manok.
Semua sesjian yang akan dipersembahkan dimasukkan dalam satu wadah. Kebanyakan, wadah yang dipergunakan adalah nyiru’ atau tampi’. Setelah semua siap, semua yang dipersembahkan itu dibacakan atau dibekali dengan mantara atau doa doa yang dilafalka oleh seseorang yang dipercaya. (Mujidi, Borneo Tribune)
Diposkan oleh
Mujidi
di
07:28
0
komentar








