Sabtu, 23 Februari 2008

Hebatnya Indonesia

Cap Go Me Singkawang
Singkawang--Kalimantan Barat patut berbangga menjadikan Kota Singkawang sebagai icon pariwisata untuk menyonsong Indonesia Visit Year 2008, dan Kalimantan Barat Visit Year 2010. Selain kekayaan alam berupa pergunungan dan pantai, kota berjuluk seribu kelenteng ini kaya akan budaya. Kekayaan itu dapat membangkitkan perekonomian masyarakat. Satu diantaranya adalah perayaan Imlek dan Cap Go Me.

Dengan semangat membangun kota, semua elemen bergandeng tangan untuk mensukseskan. Perayaan dikemas begitu rapi dengan menyuguhkan beragam rangkaian acara yang dimulai pada perayaan malam imlek pada Rabu (6/2), hingga berpuncak pada Cap Go Me di hari ke lima belas penanggalan cina, atau Kamis (21/2) yang lalu.

Bukan hanya unsur-unsur yang ada di Kota Singkawang, beberapa mentri seperti Meutia Hatta juga ikut menghadiri perayaan. Bersama suami dan rombongan lainnya, Meutia berkunjung ke Kota Singkawang. Meutia pada malam itu mendapatkan kehormatan untuk menyulut kembang api sebagai tanda dimulainya perayaan imlek. Meutia bangga dan kagum. Ia selalu menyelipkan ungkapan untuk warga Kota Singkawang untuk selalu menjaga persatuan. Saling menghargai dan berkerjasama dalam mebangun daerah.

Tidak habis pada malam perayaan Imlek, untuk menghibur seluruh warga, pihak panitia menghadirkan naga raksasa milik Singshe Aleng. Naga dengan panjang 298 meter, tinggi kepala 8, 4 meter dengan berat 100 Kg, diameter badan 5 meter, dan berhasilkan memecahkan rekor muri itu mulai dipamerkan pada (14/2). Warga sangat terhibur, selain sebagai tempat untuk rekreasi, keberadaan naga tersebut dijadikan sarana untuk memohon kepada Tuhan Yang Meha Esa. Tentunya bagi mereka yang mempercayai.

Memanjakan warga dengan menghadirkan naga tersebesar tidak cukup bagi panitian. Seperti tahu-tahun sebelumnya, pada malam ke tiga belas atau pada Selasa (19/2) digelar pawai ornament lampion. Ratusan kendaraan ikut berpartisipasi, beragam bentuk hiasan disuguhkan. Binatang tiruan untuk 12 sio juga dihadirkan. Pada malam itu Kota Singkawang terang benderang.

Pada malam lampion itu, Kota Singkawang semakin mejadi pusat perhatian. Wartawan daerah dan national berdatangan. Semua berlomba untuk mendokumentasikan kemeriahan malam itu. Bukan hanya media cetak, beberapa televise nasional juga ikut ambil bagian. Dengan adanay perayaan itu, Singkawang menjadi kota penghias layar kaca.

Walau sempat diguyur huja, pawai lampion tetap memikat hati warga. Ribuan dari mereka turun kejalan. Desak-desak untuk menyaksikan ornament-ornamen yang dipamerkan. Dengan kerja pantia dan besarnya antusias masyarakat, pada malam itu, Walikota Singkawang, Hasan Karman ikut berbangga. Didampingi Muspida, Hasan Karman mengatakan tujuan dari lampion tersebut sebagai penerang jalan bagi arwa leluhur untuk turun ke bumi, berinterkasi kepada tatung yang akan beraksi pada hari ke lima belas imlek.
Hasan Karman menyambut baik dan berterima kasih kepada panitia. Tidak lupa, ia menginginkan pada masyarakat Kota Singkawang untuk berlaku tertib, rapi dan menjaga keamanan. Ia juga bepesan agar perayaan lampion itu dilakukan dengan kesederhanaan tanpa mengurangi makna yang terkandung didalamnya.

Untuk mensukseskan malam lampion, Hasan Karman bersama Wakil Walikota Singkawang, Edy R. Yacob dan Ketua DPRD Kota Singkawang, H. Zaini Nur melakukan pengawalan. Tiga tokoh itu menggunakan satu mobil dan berada di posisi terdepan. Tangan dilambai, senyum ditebar.

Tidak cukup hanya dengan pawai lampion. Keesokan harinya, Rabu (20/2) atau bertepatan pada hari ke empat belas ilmek, ratusan tatung mulai berkeluaran dari sarang.

Dari pagi hingga sore, para tatung mengitari kota. Keluar masuk gang. Menelusuri jalan jalan utama, dan melakukan ritual di masing-masing kelenteng yang ada. Seluruh tatung yang turun pada hari itu mampir ke kelenteng Tri Darma di Jalan Sejahterah, ia adalah kelenteng tertua di Kota Singkawang.

Berdasarkan sejarah, turunnya tatung pada hari keempat belas tersebut berawal ketika pertambangan emas di Monterado diserang wabah penyakit, karena fasilitas kesehatan saat itu belum memadai. Diyakini penyebabnya adalah roh atau mahluk jahat. Untuk mengatasi itu, tatung atau loya turun kejalan masuk keluar kampong diiringi gendrang dan pembakaran gaharu yang tidak putus-putusnya, sehingga serangan roh atau mahluk jahat dapat dilawan dan perkampungan kembali menjadi tentram.

Ramainya tatung bercampur aduk dengan ribuan manusia. Walaupun diselimuti rasa ngeri, warga tetap antusias. Tatung-tatung pasang aksi. Senjata-senjata tajam di tusuk-tusuk ke badan. Tatung tidak luka. Dipercayai karena dipengaruhi roh halus yang merasuk. Aksi tatung baru berakhir menjelang magrib. Pulang pada markas masing-masing, mempersiapkan diri untuk puncak perayaan Cap Go Me keesokan harinya.

***

Malam harinya pentas seni budaya digelar. Masyarakat tidak lagi tegang. Masyarakat Kota Singkawang terhibur. Seni dari berbagai etnis di Kota Singkawang menyatu dalam dua panggung yang disediakan. Malam itu, masyarakat membuktikan tingginya harga persatuan.

Semua sepaham, tanpa persatuan dan kesetuan kemajuan pembangunan akan mudah dicapai. Acara yang dimulai sekitar pukul 19.00 itu masih termasuk dalam rangkaian perayaan Imlek dan Cap Go Me 2559 di Kota Singkwang.

Ribuan masyarakat tumpah pada lapangan terbuka di tengah pasar Kota Singkwang. Guyuran hujan yang sekali-kali turun tidak membuat masyarakat bubar. Dengan pakaian basah di badan, dengan antusias warga mengikuti semua rangkaian acara hingga usai. Semua bergoyang, menari, menikmati semua sajian acara yang dikemas dengan rapi oleh panitia penyelenggara. Semua elemen ikut mensukseskan, tidak terkecuali Walikota Singkawang, Hasan Karman.

Dalam Sambutanya, Hasan Karman mengatakan, dengan tampilnya semua etnis yang ada di Kota Singkawang, baik Tiong Hoa, Melayu, Dayak, dan Jawa merupakan sebagai bukti besarnya persatuan dan kesatuan di Kota Singkawang. Selain itu, dengan adanya pergelaran seni budaya tersebut menjadi wujudkan bahwa perayaan Imlek dan Cap Go Me buka hanya milik satu etnis, akan tetapi semua etnis yang ada di Kota Singkawang.

Di malam pentas seni budaya tersebut, Hasan Karman mengajak masyarakat Kota Singkawang untuk mengembangkan kebudayaan yang ada di Kota Singkawang, tentunya kebudayaan tersebut untuk mendukung majunya dunia pariwisata Kota Singkawang.

“Sebagai kota pariwisata, saya berharap masyarakat Kota Singkwang dapat menjadi masyarakat yang ramah,” pinta Hasan.

Salah satu bentuk keramahan tersebut adalah dengan menebar senyum. Kata Hasan setidaknya dengan keramahan yang dimiliki, para wisatawan domestic ataupun asing selalu ingat dengan Kota Singkawang, dan berkeinginan kembali untuk berkunjung ke Kota Singkawang. Hasan juga meminta kepada masyarakat untuk bersikap tertib dalam malam perayaan. Jangan berbuat keonaran serta merusak nama baik Kota Singkawang.

Selain itu, sebagai kepala daerah Kota Singkawang, Hasan Karman dengan terbuka mengutarakan permohonan maaf kepada masyarakat atau pengunjung yang berasal dari Kota Singkawang. Dengan sikap goyon, Hasan Karman mohon kejelesan dapat dibicarakan dengan pihak penyelenggarann dan tidak membawa kekecewaan itu ke daerah luar.

“Akan tetapi bila ada kebaikan silahkan,” ujar dia.

Setelah rangkai sambutan disampaikan, satu persatu pergelaran dari masing-masing etnis, Tiong Hoa, Melayu, Dayak, dan Jawa disajikan. Gemulainya tangan, lembutnya badan, serta hentakan kaki penari membuat para pengunjung terkesima. Mereka berebut untuk mendokumentasikan.

Bukan hanya tarian-tarian khas daerah, pada malam pentas seni budaya tersebut juga diramaikan atrakasi barongsai dari negera tetangga, Kucing Malaysia. Dengan kelincahan yang dimiliki, atraksi naga tersebut membuat kagum para pengunjung yang datang. acara usai, pergelaran pentas budaya berlangsung dengan kemeriahan walaupun beberapa kali diguyur hujan.

***
Puncak perayaan Cap Go Me digelar pada Kamis (21/2). Pribahasa dimana ada semut disitu ada gula cukup untuk menggambarkan kondisi Kota Singawang pada hari itu. Ratusan manusia berjubel untuk menyaksikan setiap tatung yang melintas. Tatung tidak peduli. Bau harum dari bakaran gaharu yang dibawa oleh para pemandu sepertinya membuat tatung semakin terobsesi. Tandu parang diinjak dan digoyang. Senjata tajam ditusukkan ke badan. Mulut-mulutnya ditusuk dengan bebagai barang yang diruncingkan. Pengunjung takjub sekaligus merasa ngeri.

Dengan menggunakan panggung di lapangan terbuka di tudio kota indah, secara resmi parade tatung dibuka disekitar pukul 10.00. Dihadiri Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis MH, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudaya Provinsi Kalbar, Rihat Natsir Silalahi, Penasehat Presiden Dr. Syahrir, Walikota Singkawang Hasan Karman, Ketua DPRD Kota Singkawang, Zaini Nur, serta jajaran Muspida se Kota Singkawang.

Pada acara pembukaan tatung, panitia menyampaikan parade tersebut diikuti 291 tatung bertandu parang. Selain itu ada sekitar 136 tatung biasa dan kelenteng bertandu. 13 jelangkung, 12 sio juga ikut serta.

Hasan Karman bersuara. Ia mengharapkan dengan adanya perayaan Imlek dan Cap Go Me berupa parade tatung terebut, merupakan salah satu asset wisata unggulan yang dimiliki Kota Singkawang. hal ini ini dikarenakan, tatung yang ada di Kota Singkawang mempunyai karakteristik yang khas.

“Saya yakin tatung tersebut dapat mendukung pariwista di Kota Singkawang sebagai icon pariwisata Provinsi Kalimantan Barat,” ujar Hasan

Selain asset wisata yang dimiliki, untuk menjadikan kota pariwisata, Hasan Karman meminta kepada masyarakat Kota Singkawang bersikap ramah kepada wisatawan, baik domestic ataupun asing. Karena dengan dengan keramahan, pariwisata tersebut akan merasa betah, dan tahun berikutnya diharapkan berkujung ke Kota Singkawang.

Begitu juga dengan gubernur Kalimantan Barat, Cornelis MH. Sebelum membuka parade tatung tersebut, Crnelis mengatakan sangat mendukung parade tatung di Kota singkawang dan dijadikan sebagai salah asset pariwisata yang diunggulkan. Akan tetapi, untuk selanjutnya, Cornelis mengharapkan, parade tatung tersebut dikemas dengan rapi, sehingga akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di Kota Singkawang.

Selain itu, Cornelis memandang parade tatung di Kota Singkawang milik semua suku di Kota Singkawang. Pasalnya, dari pengamatan yang dilakukan atrakasi tatung tersebut juga dikuti berbagai suku, termasuk mereka sebagai pemikul tandu. Dengan keikutsertaan beragam suku tersebut membuktikan Indonesia merupakan negara yang hebat.

“Itulah hebatnya Indonesia, walau berbeda suku tetap satu jua, bhinneka tunggal ika,” jelas Cornelis.

Parade dibuka. Kembang api meluncur ke angkasa. Ratusan tatung pun beraksi. Jalan utama mulai dari Diponegoro, Sejah Terah, Budi Utomo dan berbagai jalan utama lainnya ditelusuri. Tidak hanya menelusuri jalan, para tatung itu silih berganti menghampiri kelenteng Tri Dharma di Jalan Sejahterah, sebagai tatung tertua. Atraksi tatung pun berakhir hingga sore hari.


Tidak ada komentar: